Dalam
Kitab Bada-i’uzzuhur halaman 36 diterangkan (yang kira-kira terjemahannya
sebagai berikut):
Imam Tsa'labi mengatakan:
Setelah
diambil secakupan tanah, maka bumi MENANGIS karena merasa dirinya kehilangan.
Kemudian
Allah memberi wahyu pada bumi: “SUNGGUH SUATU SAAT NANTI AKU AKAN MENGEMBALIKAN
APA YANG AKU AMBIL DARIMU”.
Sebagaimana
firman Allah:
منها خلقناكم وفيها نعيدكم ومنها نخرجكم تارة أخرى
"dari bumi (tanah) Itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain, (Thoha, Ayat 55)".
Kemudian
Allah mengutus Izrail agar secakupan tanah tadi diletakkan di pintu Surga,
setelah diletakkan kemudian Allah mengutus Malaikat penjaga Surga yaitu Ridwan
agar menjadikan secakupan tadi menjadi adonan dengan di campur air dari
bengawan Tasnim, kemudian Allah mengutus Jibril agar mendatangkan segumpal
tanah yang putih yaitu hati/intisari bumi, dan dari itu Allah menciptakan para
Nabi, kemudian Allah mencampur debu tersebut dengan air sehingga menjadi adonan
yang besar.
(Dan
dikatakan pada makna/Syi’ir)
Wahai orang yang mengadu-kan
kesusahan, tinggalkanlah kesusahan itu dan Tunggulah solusinya karna waktumu
itu berputar dari masa ke masa. Dan janganlah menentang jika kamu dalam keadaan
keruh, karena sesungguhnya kamu tercipta dari paduan air dan tanah.
Setelah dijadikan adonan, lalu ditinggal selama 40 tahun sehingga menjadi tanah yang keras, kemudian dibiarkan selama 40 tahun lagi sehingga menjadi seperti batu bata, kemudian baru dibentuk jasad lalu diletakkan dijalan yang mana para Malaikat biasa melewati jalan tersebut ketika hendak naik dan turun, lalu dibiarkan disitu selama 40 tahun lagi.
Allah
berfirman :
هل أتى على الإنسان حين من الدهر لم يكن شيئا مذكورا
"Bukankah
telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang Dia ketika itu belum
merupakan sesuatu yang dapat disebut? (al-Insaan Ayat 1)".
Ibnu Abbas
berkata: “Yang dimaksud ‘Masa’ tersebut adalah 40 tahun”.
Imam
Tsa'labi berkata:
“Ketika
Allah membuat adonan pada tanah liat Adam, Allah memberi siraman hujan
kesedihan dan kesusahan selama 40 tahun, kemudian memberi siraman hujan
kebahagiaan selama 1 tahun. Oleh karena itu jadilah dalam kehidupan, susah itu
lebih banyak daripada senang, dan sedih lebih banyak dari pada bahagia”.
(Dan di
dendangkan pada makna/Syi’ir):
Jika kamu berfikir pada pergantian
zaman, manakah sesuatu yang lebih mengagumkan daripada ini (susah lebih banyak
daripada senang).
Datangnya kebahagiaan itu bisa
ditimbang! dan Cobaan itu bisa ditakar dengan Cetakan!
No comments:
Post a Comment