Sunday, 23 February 2014

Makanan Nabi Adam di Muka Bumi



Dalam Bada-i’uzzuhur halaman 42-43, Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas al-Hanafy mengatakan:

Diceritakan bahwa, disaat Nabi Adam memakan roti, ia lalu menyimpannya sampai malam berikutnya maka Jibril berkata padanya, “Andai kamu tidak melakukan itu, maka tiada satu pun anak cucumu melakukan simpan menyimpan”. Maka hal itu jadi kebiasaan anak cucu Adam.

Diceritakan bahwa saat Adam makan roti, lalu ia merasa haus kemudian ia minum air, setelah itu perutnya merasa mual melilit dan tidak bisa ditahan, disaat Jibril mendatanginya, i­a langsung mengadu, lalu Jibril menusuk dari duburnya, dan seketika itu Adam bisa kencing dan berak.

Ibnu Abbas ra berkata:
Saat Adam lapar, ia lupa Hawa’ dan teringat saat ia kenyang, dan suatu hari ia bertanya pada Jibril: “Wahai Jibril, Apakah Hawa masih hidup atau sudah mati?”
Jibril menjawab: “Ia masih hidup, bahkan keadaannya lebih baik daripada kamu karena dia ada dipantai dan menangkap ikan lalu dibuat makan”.
Adam berkata: “Wahai Jibril sungguh aku mimpi bertemu Hawa pada malam ini”.
Jibril berkata: “Wahai Adam, berbahagia­lah kamu, karena Allah tidak memperlihatkann­ya padamu kecuali dekat dengan pertemuan”.

Ibnu Abbas berkata:
“Saat masa ujian Adam habis, lalu bertaubat, maka Allah menerima taubatnya sebagaimana firman Allah:

فتلقى آدم من ربه كلمات فتاب عليه ، إنه هو التواب الرحيم

Kemudian Adam menerima beberapa kalimat[40] dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
[40] Tentang beberapa kalimat (ajaran-ajaran) dari Tuhan yang diterima oleh Adam, sebagian Ahli Tafsir mengartikannya dengan kata-kata untuk bertaubat.

Sebagian Ulama berkata: Allah memberi Ilham pada Adam lalu berucap :

قالا ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين

Keduanya berkata: "Ya Tuhan Kami, Kami telah Menganiaya diri Kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni Kami dan memberi rahmat kepada Kami, niscaya pastilah Kami Termasuk orang-orang yang merugi. (al-A’raf ayat: 23).

Dan diceritakan, Bah­wa Adam berdoa: “ya Robbi, dengan Hak Muhammad, Ampunilah kesalahanku. Lalu Allah memberi wahyu” “Bagaimana­ kamu tahu Muhammad? Padahal belum Aku ciptakan?”
Adam menjawab: “Disaat­ Engkau menciptakanku, a­ku mengangkat kepalaku dan aku melihat dipilar-pilar ‘Arsy ada tulisan “LA ILAHA ILLALLAH, MUHAMMADUR RASULULLAH” maka aku mengetahui bahwa Engkau tidak akan mengaitkan nama Engkau kecuali dengan nama seorang makhluk yang Engkau cintai”.
Lalu Allah menjawab: “Kamu benar Adam, maka Aku mengampunimu karena kamu berdoa pada-Ku dengan Hak Muhammad”.

Imam Tsa’labi berkata:
“Kemudia­n Allah memberi wahyu pada Adam: “Berjalanlah dari bumi Hindia menuju Makkah dan Thowaf-lah mengelilingi Al-Bait lalu mintalah ampunan pada-Ku maka Aku akan mengampuni kesalahanmu”.

Diceritakan: “Allah menurunkan mutiara merah dari mutiara-mutiara­ surga sebesar Ka’bah dan itu adalah tempat batu putih yang menjadikan bumi jadi panjang yang didalamnya dijadikan bejana dari emas yang bersinar, lalu Allah mengutus Malaikat untuk menemani Adam dan jadi petunjuk jalan menuju Makkah dan diturunkan untuk Adam sebuah tongkat yang panjangnya 20 dziro’ (± 12,48cm) dari pohon garu yaitu pohon yang berada disurga.
Disaat Adam berjalan maka bumi terlipat dan setiap tempat yang terinjak telapak kaki Adam, jadilah sebuah perkampungan/berpenduduk.
Disa­at Adam memasuki Makkah maka Allah memberi wahyu agar Adam thowaf di Baitullah lalu Adam thowaf 7x dengan kepala terbuka dan telanjang badan. maka hal itu jadi Sunnah Haji, setelah Adam melakukan hal itu maka Allah telah mengampuni kesalahannya dan menerima taubatnya.
Maka jadilah Thowaf sebagai pelebur dosa.

Diceritakan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Beliau bersabda: “Sesung­guhnya, Iblis yang laknat berkata: “ya Robbi, Sungguh prilaku hamba-hamba-Mu sangat aneh, ada yang cinta pada-Mu ada yang mendurhakai-Mu, a­da yang benci padaku ada juga yang taat padaku”,
Lalu Allah menjawab: “Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku menjadikan cinta mereka pada-Ku sebagai pelebur untuk taat padamu dan Aku menjadikan bencinya mereka padamu sebagai pelebur kemaksiatan padaku”.

Wahhab bin Munabbih berkata:
“Saat Adam bertaubat, Allah memerintahkan padanya agar keluar menuju tanah ‘Arofah, setelah sampai dibukit ‘Arofah lalu Adam wukuf/berhenti sejenak/­mengheningkan cipta disana, setelah itu tiba-tiba Ibu Hawa ada dihadapannya lalu mereka berkumpul dibukit situ,
maka dari inilah wukuf di ‘arofah menjadi Sunnah Haji.
Dinamakan ‘Arofah karena Adam den Hawa bertemu disana, kemudian Adam tinggal di Makkah sebentar lalu mereka pindah menuju bumi Hindia.

Diceritakan bahwa perpisahan Adam dan Hawa itu 500 tahun.

No comments:

Post a Comment